Selasa, Januari 27, 2009

Gerhana Matahari Cincin


Hari Selasa, 26 Januari 2009 bertepatan dengan tahun baru Imlek 2560, masyarakat Indonesia disuguhi sebuah fenomena langka berupa gerhana matahari cincin. Fenomena ini muncul lagi setelah sembilan tahun lalu dan Indonesia adalah satu-satunya daratan yang dapat mengamati peristiwa alam ini.

Sore hari, di Pantai Kenjeran Surabaya, ratusan masyarakat berkumpul untuk menjadi saksi fenomena gerhana matahari cincin. Bukan saja warga Surabaya tetapi juga para astronom dari berbagai negara juga hadir untuk menyaksikan fenomena langka ini.

Gerhana matahari cincin terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya piringan matahari, hanya sekitar 92%. Karena itu, saat puncak gerhana matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian tengah matahari tertutp bulan sehingga tampak gelap.

Penampakan seperti cincin inilah yang membedakan gerhana matahari cincin dengan gerhana matahari total. Saat puncak gerhana matahari total, seluruh piringan matahari tertutup secara sempurna oleh piringan bulan. Akibatnya suasana terang akan berubah menjadi gelap sesaat.

Pada hakikatnya, gerhana matahari terjadi setiap tahun di bumi. Fenomena gerhana matahari cincin ini menjadi unik karena panjangnya jeda waktu antara gerhana satu dengan gerhana yang lainnya. Pada tanggal 22 Juli 2009 nanti juga akan terjadi gerhana matahari total, tetapi Indonesia, khususnya dibagian utara hanya dapat mengamati fase gerhana matahari sebagian saja, karena pada saat itu Indonesia sedang berada pada posisi penumbra atau bayangan tambahan bulan.

Gerhana matahari cincin akan kembali terjadi pada 15 Januari 2010, namun Indonesia pada saat itu juga sedang di posisi penumbra. Wilayah Indonesia baru akan dapat menikmati gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 yang terjadi di sekitar Palembang, Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, dan Halmahera. Jadi Asyarakat Indonesia baru akan melihat gerhana matahari total tujuh tahun lagi.

Tim IDE Surabaya

Minggu, Januari 25, 2009

Gong Xi Fat Choi


Tim IDE Surabaya
Mengucapkan :

Gong Xi Fat Choi

Semoga di tahun ini rejeki selalu melimpahi kita semua

Kya Kya : The Biggest Night Food Arcade


Kya-Kya Surabaya adalah pasar malam di kawasan pecinan kota Surabaya, di sepanjang jalan Kembang Jepun, yang menjual berbagai macam makanan baik masakan Tionghoa, makanan khas Surabaya maupun makanan lainnya. Kata kya-kya diambil dari salah satu dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Sejarah Kembang Jepun
Kembang Jepun dulunya adalah kawasan bisnis utama dan pusat kota Surabaya. Walaupun bukan menjadi yang utama, kawasan ini tetap menjadi salah satu sentra bisnis hingga saat ini. Kawasan ini terkenal sebagai pusat perdagangan grosir, yang kemudian dikenal sebagai CBD (central business district) I Kota Surabaya. Kembang Jepun mempunyai sejarah panjang, sepanjang perjalanan Kota Surabaya. Perjalanannya penuh dengan rona-rona, sesuai warna yang dilukiskan zamannya. Sejak zaman Sriwijaya, kawasan di sekitar Kembang Jepun menjadi tempat bermacam bangsa tinggal. Banyak pedagang asing yang menambatkan kapal-kapalnya di lokasi di mana kemudian menjadi Kota Surabaya. Di situ pulalah, perjalanan sejarah menorehkan garis membujur dari timur ke barat kota, Jalan Kembang Jepun. Tegak lurus dengan Kalimas, jalan ini juga menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampil membawa perannya. Pada zaman Belanda, pemerintahan saat itu membagi kawasan menjadi Pecinan di selatan Kalimas, kampung Arab dan Melayu di Utara kawasan itu, dengan Jalan Kembang Jepun sebagai pembatasnya. Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas "Eropa Kecil". Jalan Kembang Jepun dulunya dinamakan Handelstraat (handel berarti perdagangan, straat artinya jalan), yang kemudian tumbuh sangat dinamis. Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi terkenal, ketika banyak serdadu Jepang (Jepun) memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era di mana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah Gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di sini. Banyak fasilitas hiburan didirikan, bahkan ada yang masih bertahan hingga kini, seperti Restoran Kiet Wan Kie.

Lahirnya Kya-Kya
Pemerintah Kota Surabaya pernah berkeinginan untuk menjadikan kawasan Kembang Jepun menjadi semacam Malioboro tidak mendapat respons yang baik dari para pedagang kaki lima (PKL), bahkan oleh masyarakat Kota Surabaya sendiri. Akhirnya, kawasan ini mati kembali di malam hari, gelap gulita dan rawan kejahatan. Berbeda dengan keadaan siang hari yang sangat dinamis.
Melihat banyaknya ikon kota yang pelan-pelan meredup mati dan ditinggalkan warganya, muncullah ide untuk segera menyelamatkannya. Studi dan perencanaan awal hanya dilakukan 2 minggu, namun tidak mengurangi kualitas perancangan itu sendiri dengan melakukan studi lapangan dan studi literatur, diskusi dengan pemerintah kota, warga setempat, komunitas pedagang kaki lima bahkan studi banding ke luar negeri (Chinatown di Singapura). Studi-studi dan pelaksanaan dilakukan bersama-sama dengan tim eksklusif di bawah pimpinan Wali Kota Surabaya Bambang D. Hartono, demikian juga dengan pihak DPRD Surabaya di bawah pimpinan Armuji, dan PT Kya-Kya Kembang Jepun di bawah pimpinan Dahlan Iskan. Pusat Kya-kya ini akhirnya dirancang pada jalan sepanjang 730 meter, lebar 20 meter, menampung 200 pedagang (makanan dan nonmakanan), 2.000 kursi, 500 meja makan dengan memerhatikan studi keamanan. Selain itu, studi perilaku warga Kota Surabaya, studi parkir dan transportasi, studi budaya (arsitektur setempat, genius loci), studi kelayakan ekonomis, teknis, sistem kebersihan, utilitas (saluran air, drainage, listrik, sistem suara, sampah), pemanfaatan SDM setempat, kerja sama dengan warga, LSM, potensi-potensi wisata (bangunan kuno, monumen bersejarah), dan sebagainya secara terpadu. Kya-Kya Surabaya akhirnya berhasil diwujudkan. Secara resmi Kya-Kya Surabaya dibuka pertama kali pada tanggal 31 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun kota Surabaya.Lokasi Kya-kya Kembang Jepun tidak ada duanya ketika kawasan ini sarat dengan malam budaya, maka tatkala arsiteknya pun membawa the spirit of place, suguhan arsitektur Tiongkok adalah sebuah kemutlakan. Pementasan budaya yang berkualitas pun disuguhkan seperti festival ngamen, suguhan musik keroncong, musik klasik Tiongkok, hingga Barongsai anak-anak dan tari Ngremo Bocah. Sedangkan, acara-acara tematik digelar seperti Shanghai Night, Dancing on the Street, Agoestoesan Tjap Kya-kya Kembang Djepoen serta Mystical Night, Festival Bulan Purnama dan sebagainya.

Tim IDE Surabaya

Jembatan Merah Sungguh Gagah....


Jembatan Merah merupakan salah satu monumen sejarah di Surabaya, Jawa Timur yang dibiarkan seperti adanya: sebagai jembatan. Jembatan yang menjadi salah satu judul lagu ciptaan Gesang ini, semasa zaman VOC dahulu dinilai penting karena menjadi sarana perhubungan paling vital melewati Kalimas menuju Gedung Keresidenan Surabaya, yang sudah tidak berbekas lagi.

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda. Kini, posisinya sebagai pusat perniagaan terus berlangsung. Di sekitar jembatan terdapat indikator-indikator ekonomi, termasuk salah satunya Plaza Jembatan Merah.

Perubahan fisiknya terjadi sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatasnya dengan sungai diubah dari kayu menjadi besi. Kini kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya itu, hampir sama persis dengan jembatan lainnya. Pembedanya hanyalah warna merah.

Semanggi Suroboyo yang Semakin Langka


Berbicara makanan khas di Surabaya memang tidak ada habisnya. Begitu banyak penjaja makanan yang bertebaran disudut-sudut tempat dan salah satu makanan khas yang keberadaannya makin langka dikota Pahlawan ini adalah Semanggi Suroboyo. Seperti apakah jajanan ini?

'Semanggi Suroboyo, Lontong Balap Wonokromo.....'
penggalan syair lagu yang mempertegas salah satu ikon makanan khas di Kota Surabaya adalah Semanggi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makanan yang berbahan baku daun semanggi ini mulai sulit ditemui. Jika pun masih ada, itu berkat segelintir orang yang masih peduli memperdagangkan. Walaupun ini adalah makanan khas Surabaya yang populer, tapi bisa dibilang cukup sulit untuk mendapatkannya karena sudah jarang.

Di Surabaya, Semanggi kebanyakan diproduksi oleh masyarakat sekitar daerah Benowo. Semanggi adalah sekelompok tanaman paku air (Hydropterides) dari marga (Marsilea) yang di Indonesia mudah ditemukan di sekitar pematang sawah atau tepian saluran irigasi. Secara morfologi bentuk tumbuhan ini sangat khas, karena bentuk daunnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat kelopak anak daun yang berhadapan.

Bagi yang tidak tahu makanan Semanggi tentunya akan heran ketika pertama kali menyantapnya dan mungkin akan terkesan kotor. Sekilas model penyajiannya tak jauh beda dengan Pecel dan sambal kental diatasnya.
Makanan khas Surabaya yang disajikan pada piring yang terbuat dari daun pisang atau disebut 'pincuk' ini terdiri dari beberapa sayur seperti daun semanggi, kecambah dan disiram dengan bumbu ketela rambat beserta sambal cabe rawit yang pedas. Untuk menikmatinya, akan semakin mantap jika dimakan dengan krupuk puli yaitu krupuk yang dibuat dari beras.
Keberadaan makanan Semanggi yang makin hari makin tenggelam dan langka, tak menyurutkan niat LeZAT untuk berburu Semanggi di beberapa tempat. Berikut beberapa tempat penjual semanggi yang sempat LeZAT temui:

Penjual Semanggi gendongan
Para penjual Semanggi kebanyakan adalah wanita paruh baya keatas. Mereka menjajakan Semanggi ke seluruh pelosok kota Surabaya dengan menggendong di punggung dan berjalan kaki. Pada pagi hari, para penjual Semanggi berkumpul di perempatan Sendangbulu, dekat perumahan Bukit Palma. Mereka menunggu jemputan dari angkutan yang setia mengantarkan mereka ke pelosok kota Surabaya.
Jadi jika Anda lagi puter-puter kota Surabaya dan melihat ibu dengan bakul yang digendong di belakang dengan tumpukan krupuk puli maka dialah sang penjual semanggi Suroboyo.
Seperti yang dijumpai LeZAT di sekitar kawasan Diponegoro dekat pemberhentian bis. Sebuah angkutan umum berhenti, tampak beberapa wanita paruh baya itu dengan berpakaian kebaya dan berjarit beranjak turun. Di depannya terdapat bakul tempat dagangannya dan tak lupa krupuk puli dalam kantung plastik yang cukup besar.
Sunarti atau mak Ati, demikian dia dipanggil hanyalah seorang pedagang Semanggi pada umumnya. Sudah hampir 20 tahun ia berjualan Semanggi secara keliling dengan rute sekitar kawasan Diponegoro, Genteng dan sekitarnya. Memang tiap hari Mak Ati menjajakan Semanggi tidak menetap tempatnya. "Biasanya saya paling sering berhenti sebentar di kantor-kantor atau sekolahan, ya...lumayan dapatnya", tuturnya.
Dengan gendongan Semanggi yang berada di punggung, dalam sehari Mak Ati bisa menjual Semanggi sebanyak antara 50 sampai 80 pincuk dengan harga perporsi 3.500 rupiah. "Ya... tergantung rame sepinya pembeli, kalau rame ya rejeki saya dan bisa pulang cepat. Tapi kalau jualan saya sepi, ya musti keliling-keliling, kadang sampai larut malam", ujar Mak Ati yang tinggalnya di daerah Kandangan.
Hampir semua pedagang Semanggi gendongan ini menawarkan harga Semanggi yang relatif terjangkau, dengan rasa yang cukup nikmat. Untuk penyajiannya seperti pada umumnya, namun seporsi sayur Semanggi ditambah sayuran kangkung atau daun lembayung (daun ubi), lalu sambal dan krupuk puli lebar.

Gerai Semanggi Top Suroboyo (STS)
Ingin menikmati Semanggi, namun sulit menemukan penjual Semanggi gendongan, ini tak jadi soal. Kita bisa menikmati Semanggi Top Surabaya (STS) di sebuah gerai tempat makan. STS memang belum membuka kedai sendiri. Hampir selama 13 tahun ini, STS berjualan di Rumah Makan Antariksa di Jl Diponegoro.
Sumarni, 27 th, penjual Semanggi STS yang sempat dijumpai LeZAT saat mengikuti even Festival Jajanan Surabaya menceritakan awal berjualan Semanggi ini karena suka makan Semanggi. "Saya suka Semanggi. Selain khas Surabaya, makanan ini bergizi dan berserat. Selain itu dari nenek hngga ibu saya juga berjualan Semanggi, jadi saya ikutan saja. Kebanyakan pembeli memuji sambal Semanggi di sini cukup sedap rasanya dan resepnya saya peroleh dari nenek saya", tuturnya.
Untuk mendapatkan Semanggi segar, setiap dua atau tiga hari sekali, warga kawasan Jelidro, Sambikerep ini pergi ke Kandangan, Benowo. "Satu kali kulakan, saya ambil lima timba. Untuk harga satu timbanya cukup murah kok. Dan begitu matang semanggi-semanggi ini saya jual seharga 8.500 rupiah per porsinya. Itu sudah lengkap dengan sambal dan krupuk", lanjut Suwarni yang tak mau menyebutkan harga semanggi segar.

Menikmati Semanggi di hotel berbintang
Makanan khas ini selain dapat ditemui dari pedagang keliling, pujasera ternyata ada juga lho di hotel berbintang tepatnya di Hotel Surabaya Plaza. Dengan membidik kalangan menengah, sajian Semanggi di hotel ini laris juga dipesan tamu. Tidak hanya para tamu yang menginap di hotel saja yang bisa menikmati, tapi dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menikmati Semanggi.
'Sudah hampir 2 tahun ini, kami menyajikan Semanggi makanan khas Surabaya yang keberadaannya hampir punah. Banyak orang bilang untuk menikmati Semanggi itu susah mencari tempatnya. Nah, Hotel Surabaya Plaza selain ingin melestarikan ragam makanan tradisional tersebut juga untuk memanjakan mereka yang ingin menikmati Semanggi", jelas Feby Kumalasari selaku Public Relation hotel tersebut.
Untuk menikmati Semanggi ditawarkan seharga 10.000 rupiah per porsi. Anda bisa bertandang dari jam 12 siang hingga jam 6 sore setiap hari. 'Semanggi ini memang paling cocok dinikmati saat siang hari. Yang membuat Semanggi ini sedap dinikmati itu tergantung dari campuran bumbu yang digunakan, seperti bawang putih ataupun petis udangnya", jelas Chef Ana sambil meracik Semanggi.
Anda penasaran ingin menikmati Semanggi?

Bung Tomo : Pahlawan yang Hampir Dilupakan


Sutomo (lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920 – wafat di Padang Arafah, 7 Oktober 1981 dalam umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Masa muda
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Perjuangan
Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik karena merasa difitna berkaittan dengan pendirian pabrik sabun bermodalkan iuran tukang becak di Surabaya akan tetapi masalah beliau ini kemudian tidak diketahui rimbanya. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Gelar Pahlawan Nasional
Gelar pahlawan nasional akhirnya diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.


Program Sekolah Adopsi Gizi di SD area Surabaya berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Hampir seluruh siswa antusias mengikuti kegiatan-kegiatan yang menyangkut masalah gizi. Pada sekolah yang menjadi Sekolah Adopsi Gizi, dipilih beberapa siswa dari kelas 3, kelas 4 dan kelas 5 untuk bertugas sebagai Duta Gizi.


Wah...seru ya...kira-kira, kegiatannya apa aja ya???

Tim IDE Surabaya

Sabtu, Januari 24, 2009

Tugu Pahlawan : Ikon Kota Surabaya


Tugu Pahlawan, adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Monumen ini setinggi 45 meter, memiliki sisi sebanyak 10 bidang.

Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah Indonesia kembali.

Monumen ini berada di tengah-tengah kota, dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur. Tugu Pahlawan merupakan salah satu icon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Monumen Tugu Pahlawan menjadi pusat perhatian setiap tanggal 10 November dimana pada tahun 1945 banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan.

Kak Dedy sedang dialog bersama teman-teman di SDS. Indriyasana 7

eeeeiiitttsss.....
Kak Dedy sedang berdialog kelas tentang pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan di SD.Kr. Indriyasana 7. Kegiatannya seru dan menyenangkan, teman-teman di SD.Kr. Indriayasana 7 sangant tenang namun antusias dengan tema-tema yang diberikan oleh Kak Dedy...
Kak Dedy...yang semangat ya dialognya....

iKutan di BLOG-nya IDE Surabaya yuuukkk...!!!

Ingin mengirim karya ???!!!

Hallo Pembaca setia Blog IDE Surabaya,

Bila ingin memberikan atau mengirim karya agar bisa di muat di Blog Tim IDE Surabaya, kamu...cukup mengirimkan tulisan kamu melalui e-mail ke alamat idesurabaya@yahoo.co.id